Cap/Label – Manusia dan Telur Asin Hidupnya Tak Luput dari Dicap?

Post dari 20 November 2008 yang belum diupload di sini.

Seperti biasa, salah satu jadwal di pagi hari adalah mengupdate berita dari manca negara Channel News Asia, Al Jazeera, Yahoo News, Google News, Bloomberg
Kemarin dan pagi ini muncul satu artikel yang cukup menarik untuk disimak
“Spitzer’s Prostitute to Appear on Talk Show” dan pagi ini “Prostitute apologized to wife of former Gov.Elliot Spitzer (mantan gubernur New York)”

… Prostitute … Call girl … Pelacur … Wanita panggilan … Perek …
itulah cap yang diberikan oleh media (dan mungkin masyarakat) US of A kepada Ashley Alexandra Dupre – yes people she has a name.

Menurut pendapat gw, penghakiman yang diberikan pada Ashley Alexandra Dupre dan segala permintaan maaf nya itu sangat tidak perlu.
Be fair…she’s a call girl. Ya, dia adalah wanita panggilan, profesional. Yang kalau dibayar..akan memberikan pelayanan. Sama seperti ketika kita datang ke restoran, kalau kita bayar, kita dapat memesan makanan, minuman, cemilan, kudapan yang kita mau.

Membaca berita Ashley A. Dupre meminta maaf sama saja seperti … Chef Z meminta maaf kepada istri Bapak A, karena Bapak A tidak makan makanan yang sudah disiapkan istrinya di rumah, tapi malah membeli / makan di restoran X milik Chef Z.
Haruskah Chef-nya meminta maaf ???

Sebenarnya bukan soal meminta maaf (walaupun secara pribadi saya tidak setuju ketika seorang profesional harus meminta maaf akan layanan yang diberikan olehnya secara profesional) — akuilah, Ashley Dupre bukanlah WIL si mantan Gubernur Elliot Spitzer.
Elliot Spitzer selalu menggunakan “layanan” Emperors VIP Club (perusahaan Ashley Dupre bekerja), dengan kata lain Ashley Dupre bukanlah yang pertama atau terakhir, melainkan, yang ketahuan. Prostitute, pelacur … seakan-akan nama Ashley Alexandra Dupre tidak ada lagi.

Intinya adalah, betapa kita sering menghakimi, memberi cap, label dan julukan — di tingkat yang paling ekstrim – stigma – pada orang-orang di sekitar kita kawan, lawan, sahabat, bahkan keluarga. Kita dituntut setiap saat untuk menjadi manusia yang sempurna, bebas cacat, bebas dari kesalahan.
Memang tidak semua dari kita suka memberi cap, tapi jujurlah pada diri kita sendiri kalau kita (cenderung) suka memberi cap dan menghakimi hal ini dan hal itu…si ini dan si itu.
Padahal mungkin diri kita sudah penuh dengan cap dari orang lain dan kita sangat tidak suka dan berusaha mati-matian untuk membersihkan diri dari cap-cap itu. Apakah mudah membersihkan cap dan penghakiman dari orang lain? Anda sendiri yang tau jawabannya.

Cap pada diri gw sendiri yang paling jelas justru diberikan oleh orang-orang terdekat. Ironis? Tidak sama sekali … kebetulan sejak kecil saya bersekolah di sekolah katolik, baca dan belajar tentang alkitab dan lucunya saya selalu bertanya-tanya… kenapa sih kejahatan-kejahatan dan hal-hal yang tidak menyenangkan itu selalu diperbuat oleh orang-orang terdekat.
Kenapa coba? Dan hal ini selalu berulang seiring waktu… (silakan baca sendiri sejarah kerajaan-kerajaan dari Romawi sampai Majapahit sampai Mataram … sampai kisah-kisah pembunuhan dan pemerkosaan sadis terkini).
Biasanya perlakuan yang menyakiti diri kita dilakukan oleh orang-orang terdekat lebih karena rasa kecewa berlebihan.
Perlakuan yang sama mungkin dilakukan oleh orang lain yang tidak terlalu dekat, tapi kita tidak terlalu peduli karena kita tidak menaruh harapan dan kepercayaan apa pun terhadap mereka.
Sakit hati, pikiran dan emosi manusia yang secuil ini biasanya reaksinya langsung membalas spontan. Pada level yang lebih ringan mungkin berakhir dengan pertengkaran. Pada kasus yang lebih parah ya jadinya tadi, pembunuhan dan tindak kriminal yang kita kategorikan sebagai tindakan sadis.

… Hmmm jadi berpikir… betapa beruntungnya saya mendapatkan kesempatan untuk mengasingkan diri sejenak dari dunia luar. Menilik ke dalam diri saya sendiri, berdialog dengan diri saya sendiri, dan belajar dari orang-orang sederhana yang mungkin adalah orang-orang dengan hati terbaik yang pernah saya kenal.

Jadi … cobalah kita pikir lagi sebelum kita punya pikiran buruk, mengatakan hal buruk, dan berbuat sesuatu yg buruk pada orang lain
Gimana sih kalau diri kita digituin?
Gimana sih kalau misalnya kita gak lagi dipanggil dengan nama kita, melainkan dipanggil : Si maling, si bokis, si jagal, si perek, dan sebagainya.
Gimana sih kalau misalnya kita mendefinisikan dan memaksa bahwa orang lain itu sifat, kepribadian, dan kelakuannya itu harus mengikuti kemauan kolektif orang-orang yang lebih banyak? Keluarga, geng, kumpulan teman apa pun itu namanya?

Seringkali cap diberikan karena sesuatu,
tapi…kalau memang itu profesi mereka ? apa kita juga akan memberi cap (catat: PROFESI = mata pencaharian, pekerjaan) kenapa hanya profesi seperti pekerja seks komersial = perek? pelacur? kenapa gigolo terkesan bebas dari cap ini? kenapa profesi lain seperti pembersih septic tank gak dikatain — penyedot *maaf tahik? … lihatlah betapa tidak adil nya kita

Jadi ? akankah kita berubah? akankah saya berubah? (jadi lebih baik tentunya)

Kalian bilang be yourself… tapi kalian juga yang minta orang lain untuk menjadi orang yang menyenangkan untuk kalian.
Hidup ini sudah susah … gak usah dibikin makin susah.

(pembahasan tentang paradoks dan adaptasi sosial akan dibahas di lain post)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s