Surat dari Praha, Untungnya Bukan Suratan Prahara

Sudah lama saya tidak menonton film Indonesia di bioskop. Sebelum Surat dari Praha kalu tak salah film Indonesia terakhir yang saya tonton adalah Sang Pencerah. Yang menurut saya hmmm… biasa aja.

Surat dari Praha ini seperti seorang pemudi yang cantik, supel, gak pintar-pintar amat tapi cukup membaca supaya bisa nyambung sama semua orang, punya kerjaan yang baik, dan hemat. Bingung? Iya saya juga bingung sama perumpamaannya.

Singkat kata, Surat dari Praha adalah dagangan yang bagus, bisa dibilang dagangan yang disukai semua pihak, dari mulai investor sampai pembelinya.

Ceritanya dibuat “cukup ringan” dengan banyak mengangkat isu sosial kelas menengah kota besar (baca: Jakarta), pace-nya agak lambat — mungkin sang sutradara adalah penggemar film Eropa, saya sih suka ya gak buru-buru, banyak berusaha menceritakan detail kehidupan sehari-hari. Satu hal yang mungkin untuk sebagian orang mengganggu adalah, kalau dipreteli semua embel-embel isunya, ceritanya ini ya tentang korban-korban kehidupan. Tapi tidak mengganggu sih untuk saya, seperti saya bilang, ini adalah dagangan yang bagus, karakter-karakter yang adalah korban kehidupan lebih mudah dijual ke pasar. Lebih banyak orang mudah bersimpati pada karakter macam ini. Yang mengganggu untuk saya adalah, seperti film Indonesia kebanyakan, banyak cerita pendukung yang dimasukkan tapi nanggung. Jadinya mereka hanya seperti tambalan, ya, keseluruhan cerita gak bolong-bolong banget, tapi kelihatannya jelek (mungkin cuma sedikit orang, termasuk saya, yang terganggu hal ini sih).

Dari sisi sinematografi, pengambilan gambar, film ini bagus karena cerdas. Meminimalisir adegan di Jakarta, sepenuhnya mengeksplorasi dan mengeksploitasi kecantikan Praha. Memanfaatkan landscape, arsitektur, dan transportasi publik di Praha untuk mendapatkan framing dan narasi yang cantik. Cerdas.

Akting, yaaah gitu deh. Tyo Pakusadewo sih gak usah ditanya ya, Julie Estelle… ya lagi-lagi namanya dagang ya, apalagi ini dagangan visual, harus ada yang sedap dipandang. Aktingnya? Lumayan. Mungkin bukan masalah akting ya, dialog Julie yang selalu menyebut “anda” itu kaku banget sih. Kalau saya ketemu orang lebih tua yang gak kenal-kenal amat biasanya pakai “bapak” atau “ibu” sebagai kata ganti orang kedua. Rio Dewanto dan Widyawati pemeran pendukung yang membantu menutupi kekurangan yang ditinggalkan Julie. Untuk figuran dan extras-nya ya… sudah lah ya. Mereka kelihatan seperti pita Hello Kitty ditempel di kostum Batman.

Art Directing. Sepengetahuan saya, film Indonesia itu tidak mengenal profesi Production Designer yang sesungguhnya. Bahkan dengan kondisi yang demikian, production design Surat dari Praha tertolong oleh (lagi-lagi) kota Praha yang cantik. Perfilman Indonesia juga tidak mengenal profesi Set Decorator, kalau Production Designer itu ahli strateginya, Set Decorator itu yang memimpin perang di lapanganny. Ketiadaan profesi ini kelihatan jelas, banyak “cheating” untuk dekorasi set film ini. Detail kecil, semoga saya salah ya. Tapi misalnya, aksesori sepeda-sepedaan di ruang tamu Laras digunakan lagi di kamar tidur Lastri. Karangan bunga duka cita, berpindah-pindah dari sisi rumah satu ke sisi rumah yang lain (mungkin karena dalam cerita berganti hari, jadi posisinya diganti, tapi menurut saya ini lebih untuk cheating kekosongan di dinding halaman rumah). Di rumah Pak Jaya, semoga saya salah lagi, untuk seorang janitor, punya dua gitar itu redundan, posisi gitar di kursi pojok ruang makan seolah hanya untuk mengisi kekosongan. Di lain adegan, gitar yang sama muncul di sebelah piano di ruang tamu. Buku-buku di rak buku, disusun agar rak tidak kelihatan kosong. Yang paling mengganggu dari semuanya adalah product placement yang vulgar, yang untungnya “berusaha diselamatkan” dengan tambahan kalimat “…oleh-oleh dari Indonesia…” Tetap saja sih, penyajiannya vulgar. Namun saya pribadi bisa mengerti, jawabannya: namanya juga bisnis. Buat film perlu uang. Sponsor = uang. Jadi… ya itu, yang banyak ganjel sih cuma di Production Design dan Art Directing (tapi setelah mengetahui budget untuk Art Department di film Indonesia, saya cukup mahfum)

Satu aspek yang paling menonjol dari film ini ya, soundtracks atau musik pendukungnya, bagus! Keseluruhan cerita dan film terbantu oleh musik yang bagus. Ternyata eh ternyata salah satu Produser Eksekutifnya, Glenn Fredly. Pantesan.

Sebagai sebuah film keseluruhan, Surat dari Praha sangat layak ditonton kok. Ringan tapi gak picisan. Visualnya cantik dan mendukung cerita, membantu memanjakan penonton yang berangan tentang keindahan bohemian kota Praha. Timnya cerdas, karena bisa meminimalisir budget dengan karakter secukupnya, set dan lokasi yang sudah ada, dan dekor yang minim. Saya senang kalau ada lebih banyak film Indonesia yang menaruh usaha dalam produksinya. Setidaknya, bisa melawan film-film “sinetron” di bioskop.

Cheers untuk tim Surat dari Praha.

 

 

 

One thought on “Surat dari Praha, Untungnya Bukan Suratan Prahara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s